Petani Sukabumi Menanam Semangka dan Blewah

By | September 27, 2018

Saat ini, sekitar 60 persen petani di selatan Kabupaten Sukabumi beralih menanam buah-buahan seperti semangka, blewah, dan melon. Para petani Sukabumi ini menilai bahwa jenis buah-buahan akan menjadi incaran pada saat Ramadhan yang akan datang.
“Setelah panen padi, sekitar 60 persen petani di Kecamatan Surade dan Jampang Kulon beralih ke buah-buahan,” ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade H. Sahlan, seperti dikutip Republika, Minggu (10/3).

Saat ini, sekitar 60 persen petani di selatan Kabupaten Sukabumi beralih ke menanam buah-buahan seperti semangka, melon dan melon. Para petani Sukabumi ini menganggap bahwa jenis buah akan menjadi target selama Ramadhan mendatang.
“Setelah panen padi, sekitar 60 persen petani di Surade dan Jampang Kulon beralih ke buah-buahan,” kata Kepala Kontak Petani Andalan Perikanan (KTNA) di Surade H. Sahlan, seperti dikutip Republika, Minggu (10/3) .

Sementara itu, sekitar 30 hingga 40 persen terus menanam padi. Sahlan mengatakan transisi itu disebabkan para petani berharap memanfaatkan momentum meningkatnya permintaan buah di bulan puasa yang akan tiba. Sebab, buah-buahan ini kerap menjadi menu berbuka puasa bagi sebagian warga.

Menurut Sahlan, sebagian besar produk pertanian lokal dipasok ke Sukabumi dan sekitarnya, dan beberapa ke daerah lain seperti Jakarta. Buah-buahan yang dihasilkan oleh Sukabumi memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan dengan kualitas buah-buahan dari daerah lain.

Sahlan mengatakan, kebiasaan menanam buah sebelum bulan puasa sudah dilakukan sejak 2010. Harapannya, petani bisa mendapat untung yang lumayan saat memasuki bulan puasa. Hasil ini akan ditambahkan ke panen padi yang juga ditanam oleh beberapa petani.

Lebih lanjut ia mengatakan, peralihan spesies tanaman dari padi ke buah-buahan atau tanaman sekunder juga disebabkan oleh faktor cuaca. Di mana hujan di wilayah selatan Sukabumi tidak merata. Padahal, sawah di selatan Sukabumi sangat bergantung pada turunnya hujan atau sawah tadah hujan.

Wilayah selatan Sahlan dapat terus menjadi potensi untuk pengembangan agrowisata. Sebab, di daerah ini terdapat banyak produk pertanian lokal dengan kualitas unggul dan tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Saat ini, promosi belum dioptimalkan untuk komunitas yang lebih luas. Ke depan, potensi agrowisata dapat dimaksimalkan dengan promosi pemerintah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Sudrajat menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Sukabumi serius mengembangkan area buah. Misalnya, tanaman pisang dipusatkan di selatan Sukabumi, terutama di sekitar kawasan Geopark Ciletuh atau Pajampangan.

Jenis buah lainnya adalah manggis, yang telah lama dikembangkan di Sukabumi, terutama di Kabupaten Cikembar dan sekitarnya. Buah-buahan lain yang lebih unggul dari Sukabumi adalah mangga dan durian. Menurut Sudrajat, pemeliharaan komoditas tanaman buah ini harus dilakukan dengan baik. Terutama dari serangan hama atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Sudrajat menjelaskan, pemerintah berharap bahwa pengembangan area buah ini dapat menjadikan Sukabumi sebagai pusat penghasil buah. Apalagi, sejauh ini buah-buahan dari Sukabumi telah dipasok untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Misalnya, durian diproduksi di Kabupaten Cikakak. Tempat buah biasanya dipesan oleh warga di luar Sukabumi, terutama Jakarta.

Sementara itu, sekitar 30 hingga 40 persen tetap menanam padi. Peralihan ini kata Sahlan disebabkan para petani berharap bisa memanfaatkan momentum meningkatnya permintaan buah-buahan pada bulan puasa yang sebentar lagi akan tiba. Pasalnya, buah-buahan ini seringkali menjadi menu untuk berbuka puasa bagi sebagian warga.

Menurut Sahlan, produk pertanian lokal buah-buahan ini sebagian besar dipasok untuk wilayah Sukabumi dan sekitarnya, serta sebagian lainnya ke luar daerah seperti Jakarta. Buah-buahan yang diproduksi Sukabumi ini tidak kalah kualitasnya bila dibandingkan dengan kualitas buah-buahan dari daerah lain.

Sahlan menuturkan, kebiasaan menanam buah-buahan menjelang bulan puasa ini sudah dilakukan sejak 2010 lalu. Harapannya, para petani bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan ketika memasuki bulan puasa. Hasil ini akan ditambah dengan panen padi yang juga ditanam oleh sebagian petani.

Lebih lanjut ia menuturkan, peralihan jenis tanaman dari padi ke buah-buahan atau palawija disebabkan pula oleh faktor cuaca. Di mana guyuran hujan di wilayah selatan Sukabumi tidak merata. Padahal, areal persawahan padi di selatan Sukabumi sangat tergantung pada turunnya hujan atau sawah tadah hujan.

Wilayah selatan Sukabumi lanjut Sahlan bisa menjadi potensi untuk pengembangan agrowisata. Pasalnya, di daerah ini banyak terdapat produk pertanian lokal yang kualitasnya unggul dan tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Saat ini, belum teroptimalkan promosinya kepada masyarakat luas. Ke depan, potensi agrowisata ini dapat lebih dimaksimalkan dengan adanya promosi dari pemerintah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Sudrajat menambahkan, Pemkab Sukabumi tengah serius melakukan pengembangan kawasan buah-buahan. Misalnya, tanaman pisang yang dipusatkan di selatan Sukabumi terutama di sekitar kawasan Geopark Ciletuh atau Pajampangan.

Jenis buah lainnya yakni manggis yang sudah sejak lama dikembangkan di Sukabumi terutama di Kecamatan Cikembar dan daerah sekitarnya. Buah-buahan lainnya yang menjadi unggulan Sukabumi adalah mangga dan durian. Menurut Sudrajat, pemeliharaan komoditas tanaman buah-buahan ini harus dilakukan dengan baik. Terutama dari serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT).

Sudrajat menerangkan, pemerintah berharap pengembangan kawasan buah-buahan ini dapat menjadikan Sukabumi sebagai sentra penghasil buah-buahan. Terlebih, selama ini buah-buahan dari Sukabumi sudah dipasok untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Misalnya, durian yang dihasilkan di Kecamatan Cikakak. Di mana buah tersebut biasanya sudah dipesan oleh warga di luar Sukabumi, khususnya Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *